Seperti sudah di uraikan, Datuk
Maharaja Indra adalah Ninik yang tertua di Hulu Kampar. Anak Chndra Banu,
bergelar Sri Indravarman ke VI yang ketika kecilnya disemedikan di kuil
Ayuthaya, Thailand.Ia telah masuk kedalaman Minangkabau, dengan nama Sri
Maharaja Indra, melalui sungai Indra Giri ( Sungai Indra ).Dalam tahun 1030M
telah mendirikan satu emukiman yang disebut Anding, posisinya dalam adat
dikenal sebagai Balai Putus. Posisi Datuk Maharaja Indra dalam Adat ketika itu
adalah sebagai pimpinan tertua di sepanjang Batang Kampar dan wilayah Rokan
yang membawahi dua orang petinggi adat yaitu; Datuk Basa dan Datuk Sibijayo.
Poros kekuasaan Datuk Srimaharaja
sebagai Datuk yang tertua di Hulu Kampar adalah meliputi wilayah sehiliran
Gunung Gadang yang dikenal sebagai kawasan penghasil emas.Termasuk negeri Sauik
dan negeri sungai Rimbang.Batas sempadan wilayah kuasa itu sampai ke
negeri Padang Japang, negeri Mangganti,
negeri Mungkal, dan negeri koto tuo sampai ke Gunung Malintang.Di dalam
lingkungan ini terdapat negeri Tambun,
Negeri Sari lamak mengiliri anak Sungai Batang Sinamar dan anak Sungai Batang
Limpasi.
Didalam wilayah itu, ada 6 orang petinggi
adat sebagai adat yang mengatur negeri, yaitu;
1.
Datuk Bandaro Hitam, berkedudukan di Balai Talago
sebagai Gajah Dompa
2.
Datuk Rajo Mangkuto, berkedudukan di Balai
Talang
3.
Datuk Perpateh Nan Baringek Nan Bajambek
berkedudukan di Balai Kubang Ruek.
4.
Datuk Rajo Kondai, negeri Mungkal. Pergi ke
Kampar Kanan dan Sialang –Durian Tinggi, wilayah Kaur IX.
5.
Datuk Tumanggung di negeri Taram
6.
Datuk Pengulu Basa dalam negeri Bukit Limbuku.
Ke enam wilayah yang dipimpi oleh
penghulu diatas, berhubungan dengan negeri-negeri sebagai berikut;
1.
Negeri Taeh
2.
Negeri Simelenggang
3.
Negeri Gurun-
4.
Lubuk Batingkok
5.
Negeri Piobang
6.
Negeri Sungai Beringin.
Ke enam negeri diatas memiliki
tugas masing-masing, sebelum membentuk kawasan yang lebih besar yang disebut
Negari Simelenggang dengan Balai adatnya BALAI KOTO PUDING, BALAI BATU NAN
LIMO.Inti kepengurusan Balai Koto Puding di Simelenggang adalah;
·
Hulu Balang Adatnbya berasal dari negeri Piobang
·
Imam dalam adat berasal dari negeri Sungai
Beringin
·
Juru Adatnya dari negeri Gurun
·
Kadi diangkat dari Negeri Lubuk Batingkok
·
Kebesaran bungo Setangkai dari negeri Taeh
·
Tempat
Balai di negari Simelenggang.
Di dalam memimpin negeri yang
seluas itu, selain adanya petinggi adat disetiap negeri maka pelaksanaan aturan
adat di bantu oleh Datuk-Datuk yang berpangkat Bandaro. Diantara 44 orang datuk
andiko yang tercatat di Luhak 50 Kota, adalah merupakan penghulu Andiko kepada
Ninik Yang berempat. Ketika ini, 4 orang diantaranya bertempat tinggal di
Kapur. Mereka adalah;
1.
Datuk Bandaro Sati, di negeri Lolo-Koto Lamo.
2.
Datuk Bandaro Kayo , di negeri Sialang.
3.
Datuk Bandaro Hijau di negeri Durian Tinggi
4.
Datuk Bandaro Kuning di Negeri Paiti.
Wilayah kebesaran Datuk Basa
meliputi; Koto Alam, Gunung Malintang,Manggilang, Pangkalan, Tanjung Pauh dan
Tanjung Balik.Pengembangan wilayah ke utara meliputi; Sialang Durian Tinggi,
Galugur dan Tanjung, terus ke Rao,Simalungun. Melalui Puar Datar berhubung ke
Kumpulan, dan Alahan Mati.
Jalan melingkar melalui hiliran
anak Sungai Batang Limpasi, antara negeri Galugur ,negeri Rao yang ketika itu berhubungan dengan Padang
Lawas dan Sungai barumun dengan ,Negeri Durian Tinggi dan Sialang di hulu
Kampar bersamaan dengan terbentuknya negari yang benama Simelenggang dan
berfungsi sebagai pelabuhan transit menuju koto Lamo. Barang-barang hasil
pedalaman Minangkabau yang akan di bawa ke Koto Lamo, Patapahan dan selanjutnya
mengaliri Sungai Kampar dan menyebrang selat Melaka di muat di situ.
Saya mencoba mencari tahu,
mengapa di tapak asal Datuk Maharaja Indra, Anding ditemukan juga satu Kampung
di tepi batang sinamar bernama Shingkuang. Karena ini adalah nama yang berasal
dari suko kata bahasan Hakka. Keingin tahuan saya demikian, membawa saya untuk
merujuk kembali kepada awal kedatangan Ninik yang berempat, sebelum
terbentuknya negeri Simelenggang,sebagai pelabuhan transit di sungai Sinamar
untuk barang2 hasil dari pedalaman Minangkabau masa dahulu.
Bagaimana pun perhubungan antara
Kalla ( Melaka ), dan wilayah Pelabuhan Maritim di pantai Timur Sumatera ketika
itu di kuasai oleh kekuatan Sriwijaya
yang kemudian mengalami pasang surut akibat ekspansi Rayendra Cola dewa di
dalam tahun 1025 M.Sebagaimana kebiasaan Orang Chola, mereka tidak menduduki
negeri yang ditundukkannya, melain kan meninggalkan wilayah itu tetai hanya
meinta uang upeti keada wilayah yang sudah ditundukkannya. Demikianlah, lima
tahun kemudian dalam tahun 1030 M, Sangsaurba, dari chola menemui kegagalan
ketika kembali menundukkan Sriwijaya untuk meminta uang upeti, karena adanya
penggantian Dinasti di sana,yakni dari wangsa Syailendra ke wangsa Sanjaya dari
Singosari.Dalam Tambo Minangkabau, dapat diketahui bahwa Sangsaurba telah
terdampar di Muara sungai Kampar dan tidak kembali lagi ke Chola.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa
Chola meluaskan kuasanya dengan menyerbu Raja Kadaram tahun 1038-1040M,
menundukkan kerajaan Panai yang ada di pedalaman Sumatera, yang jelas merupakan
per- hubungan darat Sungai Kampar dan Sungai Barumun yang bermuara ke selat
Melaka ketika itu.Oleh karena Tambo menyebutkan bahwa Sangsapurba masuk dari
Muara Kampar, maka dapat dipastikan bahwa jalan menuju Padang lawas tidak lain
adalah melalui anak sungai ke Rao seperti yang telah disebutkan di atas.Maka
posisi nagari anding dengan Mungkal adalah wilayah yang sangat mungkin untuk
mencapai hiliran batang Limpasi ke
Pagadis, Rao dimana terdapat perhubungan sungai sampai Muara Batang
Gadis dalam wilayah yang di tundukkan oleh Chola ada tahun 1038-1040, yakni
kerajaan Panai. Salah satu wilayah penghasil Kamper terbesar di pedalaman
Sumatera.
Agak mudah di pahami, bahwa
antara tahun 1030 – 1040 M telah masuk ke pedalaman Sumatera dengan berusaha
menundukkan Panai, hasil utama yang diperniagakan adalah Kamper, Damar dan Kemenyan. Sepertinya sangat
mungkin bahwa kerajaan Panai yang di tundukkan oleh Chola di kuasai sebelumnya
oleh orang2 yang berasal dari India, Tambralinbgga dan Mandala,sebagian adalah
pengikut orang-orang Indrapura yang berhubung ke Barus melalui jalur yang sama.
Maka sangat mungkin digunakan orang-orang yang berniaga dan tunduk di bawah
chola adalah orang-orang suku lain yang berasal dari tempat berbeda.
Bagaimanaun juga, orang shingkuang merupakan pilihan, yang ketika itu telah
mengusai wilayah muara Batang Gadis.
Telah disebutkan bahwa
perhubungan perniagaan yang bermula di Sungai Barumum menuju selat Melaka,
terfokus pada hasil Kamper dan Kemenyan. Sedangkan Emas terdapat di sehiliran
Gunung Gadang, yang terang dalam kekuasaan Maharaja Indra. Berpusat di Anding.
Lalulintas perniagaan yang demikian, dalam hal emas tidak di lakukan melalui
sungai Barumun. Selain sumber emas itu berdekatan dengan Hulu Kampar, juga
karena sungai Barumun merupakan bekas daerah yang di taklukan oleh Chola. Oleh
itu, orang-orang Shingkuang yang berniaga membawa emas mendirikan pemukiman
baru yang disebut Kampung Shingkuang. Berseberangan Sungai dengan negeri Anding
dimana Maharaja Indra berkuasa. Disitu, mereka disebut Cheti. Disitu, sebagai
pendatang dalam wilayah Maharaja Indra, mereka diberi seorang pemimin adat yang
di gelari Patih Mangkhudum, berstatus seorang Datuk. Perkawinan silang antara
beberapa nagari disekitar ini, telah menjadikan wilayah baru dengan Nama
Simelenggang sebagai pelabuhan Transit menuju Muara sungai Kampar.
Telah umum diketahui, bahwa Pulau
Sumatera sebagai penghasil emas.Menurut Tome” Pires Hampir semua pelabuhan di Sumatera ketika itu
menghasilkan emas. Namun texs China
Xintang Shu menyatakan juga bahwa Sriwijaya , bagian barat yang disebut
Lang-Po-Lu-Si, adalah wilayah paling kaya akan emas , air raksa dan Kamper.
Mungkin dengan alasan ini, bahwa pelabuhan-pelabuhan di pesisir Timur dikuasai
sisa dinasti Syailendra, Sriwijaya, maka Sang Sapurba juga mengawini putri
Raja-Raja Indra. INDO JOLITO. Kemudian dikenal sebagai Bundo Kanduang di
Minangkabau.
