Selasa, 05 Januari 2016

Membentuk Negeri



Seperti sudah di uraikan, Datuk Maharaja Indra adalah Ninik yang tertua di Hulu Kampar. Anak Chndra Banu, bergelar Sri Indravarman ke VI yang ketika kecilnya disemedikan di kuil Ayuthaya, Thailand.Ia telah masuk kedalaman Minangkabau, dengan nama Sri Maharaja Indra, melalui sungai Indra Giri ( Sungai Indra ).Dalam tahun 1030M telah mendirikan satu emukiman yang disebut Anding, posisinya dalam adat dikenal sebagai Balai Putus. Posisi Datuk Maharaja Indra dalam Adat ketika itu adalah sebagai pimpinan tertua di sepanjang Batang Kampar dan wilayah Rokan yang membawahi dua orang petinggi adat yaitu; Datuk Basa dan Datuk Sibijayo.
Poros kekuasaan Datuk Srimaharaja sebagai Datuk yang tertua di Hulu Kampar adalah meliputi wilayah sehiliran Gunung Gadang yang dikenal sebagai kawasan penghasil emas.Termasuk negeri Sauik dan negeri sungai Rimbang.Batas sempadan wilayah kuasa itu sampai ke negeri  Padang Japang, negeri Mangganti, negeri Mungkal, dan negeri koto tuo sampai ke Gunung Malintang.Di dalam lingkungan ini terdapat negeri  Tambun, Negeri Sari lamak mengiliri anak Sungai Batang Sinamar dan anak Sungai Batang Limpasi.
Didalam wilayah itu, ada 6 orang petinggi adat sebagai adat yang mengatur negeri, yaitu;
1.       Datuk Bandaro Hitam, berkedudukan di Balai Talago sebagai Gajah Dompa
2.       Datuk Rajo Mangkuto, berkedudukan di Balai Talang
3.       Datuk Perpateh Nan Baringek Nan Bajambek berkedudukan di Balai Kubang Ruek.
4.       Datuk Rajo Kondai, negeri Mungkal. Pergi ke Kampar Kanan dan Sialang –Durian Tinggi, wilayah Kaur IX.
5.       Datuk Tumanggung di negeri Taram
6.       Datuk Pengulu Basa dalam negeri Bukit Limbuku.
Ke enam wilayah yang dipimpi oleh penghulu diatas, berhubungan dengan negeri-negeri sebagai berikut;
1.       Negeri Taeh
2.       Negeri Simelenggang
3.       Negeri Gurun-
4.       Lubuk Batingkok
5.       Negeri Piobang
6.       Negeri Sungai Beringin.
Ke enam negeri diatas memiliki tugas masing-masing, sebelum membentuk kawasan yang lebih besar yang disebut Negari Simelenggang dengan Balai adatnya BALAI KOTO PUDING, BALAI BATU NAN LIMO.Inti kepengurusan Balai Koto Puding di Simelenggang adalah;
·         Hulu Balang Adatnbya berasal dari negeri Piobang
·         Imam dalam adat berasal dari negeri Sungai Beringin
·         Juru Adatnya dari negeri Gurun
·         Kadi diangkat dari Negeri Lubuk Batingkok
·         Kebesaran bungo Setangkai dari negeri Taeh
·         Tempat Balai di negari Simelenggang.
Di dalam memimpin negeri yang seluas itu, selain adanya petinggi adat disetiap negeri maka pelaksanaan aturan adat di bantu oleh Datuk-Datuk yang berpangkat Bandaro. Diantara 44 orang datuk andiko yang tercatat di Luhak 50 Kota, adalah merupakan penghulu Andiko kepada Ninik Yang berempat. Ketika ini, 4 orang diantaranya bertempat tinggal di Kapur. Mereka adalah;
1.       Datuk Bandaro Sati, di negeri Lolo-Koto Lamo.
2.       Datuk Bandaro Kayo , di negeri Sialang.
3.       Datuk Bandaro Hijau di negeri Durian Tinggi
4.       Datuk Bandaro Kuning di Negeri Paiti.
Wilayah kebesaran Datuk Basa meliputi; Koto Alam, Gunung Malintang,Manggilang, Pangkalan, Tanjung Pauh dan Tanjung Balik.Pengembangan wilayah ke utara meliputi; Sialang Durian Tinggi, Galugur dan Tanjung, terus ke Rao,Simalungun. Melalui Puar Datar berhubung ke Kumpulan, dan Alahan Mati.
Jalan melingkar melalui hiliran anak Sungai Batang Limpasi, antara negeri Galugur ,negeri  Rao yang ketika itu berhubungan dengan Padang Lawas dan Sungai barumun dengan ,Negeri Durian Tinggi dan Sialang di hulu Kampar bersamaan dengan terbentuknya negari yang benama Simelenggang dan berfungsi sebagai pelabuhan transit menuju koto Lamo. Barang-barang hasil pedalaman Minangkabau yang akan di bawa ke Koto Lamo, Patapahan dan selanjutnya mengaliri Sungai Kampar dan menyebrang selat Melaka di muat di situ.
Saya mencoba mencari tahu, mengapa di tapak asal Datuk Maharaja Indra, Anding ditemukan juga satu Kampung di tepi batang sinamar bernama Shingkuang. Karena ini adalah nama yang berasal dari suko kata bahasan Hakka. Keingin tahuan saya demikian, membawa saya untuk merujuk kembali kepada awal kedatangan Ninik yang berempat, sebelum terbentuknya negeri Simelenggang,sebagai pelabuhan transit di sungai Sinamar untuk barang2 hasil dari pedalaman Minangkabau masa dahulu.
Bagaimana pun perhubungan antara Kalla ( Melaka ), dan wilayah Pelabuhan Maritim di pantai Timur Sumatera ketika itu  di kuasai oleh kekuatan Sriwijaya yang kemudian mengalami pasang surut akibat ekspansi Rayendra Cola dewa di dalam tahun 1025 M.Sebagaimana kebiasaan Orang Chola, mereka tidak menduduki negeri yang ditundukkannya, melain kan meninggalkan wilayah itu tetai hanya meinta uang upeti keada wilayah yang sudah ditundukkannya. Demikianlah, lima tahun kemudian dalam tahun 1030 M, Sangsaurba, dari chola menemui kegagalan ketika kembali menundukkan Sriwijaya untuk meminta uang upeti, karena adanya penggantian Dinasti di sana,yakni dari wangsa Syailendra ke wangsa Sanjaya dari Singosari.Dalam Tambo Minangkabau, dapat diketahui bahwa Sangsaurba telah terdampar di Muara sungai Kampar dan tidak kembali lagi ke Chola.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa Chola meluaskan kuasanya dengan menyerbu Raja Kadaram tahun 1038-1040M, menundukkan kerajaan Panai yang ada di pedalaman Sumatera, yang jelas merupakan per- hubungan darat Sungai Kampar dan Sungai Barumun yang bermuara ke selat Melaka ketika itu.Oleh karena Tambo menyebutkan bahwa Sangsapurba masuk dari Muara Kampar, maka dapat dipastikan bahwa jalan menuju Padang lawas tidak lain adalah melalui anak sungai ke Rao seperti yang telah disebutkan di atas.Maka posisi nagari anding dengan Mungkal adalah wilayah yang sangat mungkin untuk mencapai hiliran batang Limpasi ke  Pagadis, Rao dimana terdapat perhubungan sungai sampai Muara Batang Gadis dalam wilayah yang di tundukkan oleh Chola ada tahun 1038-1040, yakni kerajaan Panai. Salah satu wilayah penghasil Kamper terbesar di pedalaman Sumatera.
Agak mudah di pahami, bahwa antara tahun 1030 – 1040 M telah masuk ke pedalaman Sumatera dengan berusaha menundukkan Panai, hasil utama yang diperniagakan adalah  Kamper, Damar dan Kemenyan. Sepertinya sangat mungkin bahwa kerajaan Panai yang di tundukkan oleh Chola di kuasai sebelumnya oleh orang2 yang berasal dari India, Tambralinbgga dan Mandala,sebagian adalah pengikut orang-orang Indrapura yang berhubung ke Barus melalui jalur yang sama. Maka sangat mungkin digunakan orang-orang yang berniaga dan tunduk di bawah chola adalah orang-orang suku lain yang berasal dari tempat berbeda. Bagaimanaun juga, orang shingkuang merupakan pilihan, yang ketika itu telah mengusai wilayah muara Batang Gadis.
Telah disebutkan bahwa perhubungan perniagaan yang bermula di Sungai Barumum menuju selat Melaka, terfokus pada hasil Kamper dan Kemenyan. Sedangkan Emas terdapat di sehiliran Gunung Gadang, yang terang dalam kekuasaan Maharaja Indra. Berpusat di Anding. Lalulintas perniagaan yang demikian, dalam hal emas tidak di lakukan melalui sungai Barumun. Selain sumber emas itu berdekatan dengan Hulu Kampar, juga karena sungai Barumun merupakan bekas daerah yang di taklukan oleh Chola. Oleh itu, orang-orang Shingkuang yang berniaga membawa emas mendirikan pemukiman baru yang disebut Kampung Shingkuang. Berseberangan Sungai dengan negeri Anding dimana Maharaja Indra berkuasa. Disitu, mereka disebut Cheti. Disitu, sebagai pendatang dalam wilayah Maharaja Indra, mereka diberi seorang pemimin adat yang di gelari Patih Mangkhudum, berstatus seorang Datuk. Perkawinan silang antara beberapa nagari disekitar ini, telah menjadikan wilayah baru dengan Nama Simelenggang sebagai pelabuhan Transit menuju Muara sungai Kampar.
Telah umum diketahui, bahwa Pulau Sumatera sebagai penghasil emas.Menurut Tome” Pires  Hampir semua pelabuhan di Sumatera ketika itu menghasilkan emas. Namun texs China  Xintang Shu menyatakan juga bahwa Sriwijaya , bagian barat yang disebut Lang-Po-Lu-Si, adalah wilayah paling kaya akan emas , air raksa dan Kamper. Mungkin dengan alasan ini, bahwa pelabuhan-pelabuhan di pesisir Timur dikuasai sisa dinasti Syailendra, Sriwijaya, maka Sang Sapurba juga mengawini putri Raja-Raja Indra. INDO JOLITO. Kemudian dikenal sebagai Bundo Kanduang di Minangkabau.